Jelas ada beberapa keuntungan ketika Anda menjadi favorit atasan atau bos. Tetapi, ada kekurangannya juga: Rekan kerja Anda bisa jadi benci dengan Anda dan ini tidak baik untuk semangat tim. Jika Anda adalah peliharaan manajer Anda, bagaimana Anda bisa memotivasi mereka untuk memperlakukan semua orang dengan lebih setara? Bagaimana Anda bisa menolak pilih kasih tanpa terlihat seolah tidak berterima kasih atau merusak hubungan Anda?
Apa yang Dikatakan Ahli?
Di waktu yang sama, menjadi pilihan atasan bisa menjadi “hal yang sangat luar biasa dan menakutkan,” menurut Karen Dillon, penulis dari HBR Guide to Office Politics, dan buku-buku lainnya. Manfaatnya jelas: Anda mendapat pekerjaan pilihan, perhatian ekstra, dan informasi orang dalam tentang apa yang terjadi di perusahaan. Namun, perlakuan spesial itu ada konsekuensinya. “Itu bisa menumbuhkan permusuhan dan kebencian di antara rekan kerja Anda,” yang bisa membuat Anda tidak nyaman, kata Dillon.
Thomas J. DeLong, seorang profesor praktik manajemen di Harvard Business School dan penulis buku Flying Without a Net, dan lainnya, setuju dengan pendapat tersebut. Sering kali ini menjadi “serangan bagi para favorit atasan karena karyawan lain akan jadi cemburu,” katanya. “Para favorit atasan bisa dibutakan secara politik baik dengan cara halus maupun tidak.” Berikut ini adalah cara bagaimana menangani situasi tersebut dan saran bagaimana memotivasi atasan Anda untuk bisa menebar cinta.
Refleksi.
Menjadi peliharan atasan bisa jadi menaruh Anda pada posisi sulit dengan rekan kerja Anda, tetapi cobalah ingat bahwa manajer Anda tidak secara sengaja bermaksud jahat dengan menaruh Anda di posisi ini, kata Dillon. “Hal ini awalnya bertujuan baik.” Anda telah mendapatkan kepercayaan dan kekaguman mereka, namun kemungkinan atasan Anda tidak mengetahui betapa sulitnya itu bagi Anda—dan bisa jadi mereka “merusak lingkungan kerja” dengan tanpa sadar menyebabkan kebencian di antara rekan kerja. Dalam pemikiran atasan Anda, Anda adalah karyawan yang dihargai dan dihormati, tetapi bagi rekan kerja Anda, Anda adalah favoritnya.
Namun, menjadikan diri Anda sebagai favorit manajer tidak selalu menjadi langkah karier yang cerdas. “Anda mengarahkan kendaraan Anda ke orang ini. Jika mereka pergi atau dipecat, Anda kehilangan pondasi kekuatan,” ujar Dillon. Pertimbangkan pula bagaimana atasan Anda memilih Anda sejak awal. “Orang yang menjadi favorit tahu bagaimana menangani ego manajernya,” kata DeLong. “Ini adalah kolusi psikologi. Anda membuat atasan merasa senang.” Namun, suatu hari, Anda bisa saja tidak disukai.
Waspada dengan pandangan tertentu.
Ketika hubungan Anda dengan atasan akrab dan santai, “sangat mudah untuk tidak menyadari bagaimana orang lain melihat dan mengawasi Anda,” kata Dillon. Apakah Anda biasanya masuk ke ruangan atasan tanpa pemberitahuan? Biasa makan siang bersama? Dengan santai bermain lempar bola Nerf di sekitar lorong? “Hal tersebut mungkin terlihat seperti gestur kecil, tetapi itu sangat berarti bagi mereka yang melihat,” katanya. “Perilaku seperti itu memiliki makna, dan orang membaca perilaku demikian.” Peka dengan pandangan terkait situasi tersebut mengharuskan Anda menaruh “pagar pembatas antara Anda dan atasan Anda,” katanya.
Cobalah untuk menciptakan jarak struktural, imbuh DeLong. Supaya terlihat adil, Anda bisa menyarankan manajer Anda untuk memulai latihan melacak waktu. “Katakan, ‘Ini adalah sesuatu yang boleh jadi menarik. Lacak waktu Anda untuk melihat dengan siapa Anda paling sering menghabiskannya. Kemudian refleksikan hal tersebut.’” Tujuan Anda, “adalah menjadi lebih perhatian dengan perilaku atasan.” Pada akhirnya, dia berujar, “Segala yang dilakukan seorang pemimpin memiliki sinyal-sinyal tersendiri, dan sinyal tersebut haruslah murni.”
Motivasi atasan Anda untuk menyebarkan cinta.
Sebagai karyawan yang difavoritkan, Anda juga perlu berusaha membantu atasan Anda “melihat nilai dari orang lain dalam tim,” kata Dillon. “Gunakan status Anda untuk menyoroti orang lain dan memberikan penghargaan saat diperlukan.” Ini bukan hanya tentang memotivasi Anda menebarkan cinta, tetapi ini memungkinkan anggota tim Anda untuk melihat jika Anda menggunakan sarana dengan bijak.
Dia menyarankan melakukan hal ini secara terbuka dan personal. Contohnya, Anda bisa saja mengirim email kepada atasan Anda, memberikan detail kontribusi spesifik yang dilakukan rekan kerja dalam menyiapkan presentasi skala besar—dan cantumkan CC kepada rekan kerja tersebut tentunya. Anda juga bisa meminta atasan Anda untuk mengenali karyawan tertentu dalam rapat berikutnya dan berterima kasih kepada mereka atas segala kerja kerasnya. Tujuannya adalah menginspirasi atasan Anda untuk menjadi “murah hati dalam memberikan penghargaan dan pujian saat itu diperlukan.” Lebih pentingnya lagi, jangan menimbun perhatian dan niat baik atasan Anda. Dan jangan mengambil keuntungan dari relasi tersebut.
Terus terang.
Ada baiknya juga mempertimbangkan untuk bicara dengan atasan tentang situasi Anda. DeLong menyarankan untuk berkata: “Kita memiliki hubungan yang akrab dan ini memengaruhi hubungan saya dengan rekan yang lain. Saya tidak ingin terlihat sebagai mata-mata Anda. Saya perlu menjaga jarak secara strategis dari Anda.” DeLong memprediksi jika perkataan yang terus terang ini, maka atasan “akan lebih menghormati Anda.”
Keterusterangan Anda menunjukkan jika “Anda tidak hanya fokus pada agenda sendiri,” katanya. “Anda berkata: ‘Intinya, ini adalah hal terbaik untuk perusahaan.’” Akan tetapi, Dillon memberi saran untuk berhati-hati dalam memulai pembicaraan. “Anda tentu tidak ingin membuat atasan Anda bersifat defensif,” kata Dillon. Justru, dia menyarankan untuk mengarahkan situasi sebaik mungkin “dengan tindakan dan perilaku Anda.” Jadilah konstruktif dan positif, tambahnya.
Jangan bergosip.
Tentu saja “lebih seru membicarakan orang lain daripada membicarakan diri sendiri, entah itu secara sistem atau teori,” tetapi bergosip dengan atasan Anda tidaklah bijak, kata DeLong. “Katakan: ‘Kita harus bicara tentang apa yang kita bicarakan. Saya merasa terhormat karena Anda menceritakan [hal-hal] dengan saya, namun ini bisa mencoreng hubungan saya dengan rekan kerja saya, dan saya tidak tahu harus melakukan apa dengan informasi tersebut.’” Tetap tegas. Jika atasan Anda berulang kali mengomel tentang rekan kerja Anda kepada Anda, DeLong menyarankan untuk berkata dengan gaya “menyindir dan mendukung”: ‘Saya beranggapan kalau Anda sudah mengatakan pada orang ini apa yang Anda pikirkan.’”
Tujuan Anda adalah dengan halus “memandu” manajer Anda keluar dari perilaku ini. Dan juga, cobalah untuk tidak terlalu keras pada atasan Anda, kata Dillon. Tanyakan pada diri Anda: “Apakah atasan saya keluar dari batas? Atau apakah orang ini membagikan pemikiran yang kelewatan?” Boleh jadi bijak bagi Anda hanya dengan mendengarkan dan membiarkan manajer mengatakan perkataannya. Anda juga bisa mencoba “secara halus membela rekan kerja Anda” atau memberikan lebih banyak konteks terkait hal ini. Apa pun yang kamu lakukan, “jangan ikut-ikut mengkritik.”
Berusahalah untuk menjadi favorit semua orang.
Kemungkinan, solusi terbaik untuk menangani kebencian akibat status Anda sebagai ‘yang paling difavoritkan’ adalah dengan “bekerja keras menjadi rekan kerja yang baik bagi semua orang,” ujar Dillon. Dalam kata lain, “jangan hanya jadi peliharaan atasan; jadilah peliharaan semua orang.” Berinteraksilah dan jadilah suportif, perhatikan dengan cermat apa yang tim Anda kerjakan, dan tawarkan saran dan pertolongan ketika orang lain membutuhkannya. Tujuan Anda adalah dihormati dengan baik oleh atasan—dan orang lain di tim Anda: “Sulit rasanya membenci seseorang yang suka menolong dan berinteraksi dan suportif baik secara publik maupun secara personal.”
Prinsip-Prinsip yang Perlu Diingat
Lakukan:
- Pertimbangkan untuk membicarakan situasi tertentu dengan atasan Anda. Jujurlah mengenai efek permasalahan bagi tim Anda.
- Waspadai bagaimana Anda terlihat. Cobalah untuk membuat jarak antara Anda dan atasan Anda.
- Bekerja keraslah untuk memenangkan hati rekan kerja. Sulit rasanya membenci seseorang yang suka menolong dan berinteraksi.
Jangan lakukan:
- Marah kepada atasan Anda. Kemungkinan para atasan tidak menyadari jika mereka memicu kebencian di antara rekan kerja Anda.
- Simpan perhatian dan niat baik atasan Anda — dorong mereka mengakui nilai dan kontribusi orang lain secara terbuka.
- Biarkan atasan Anda bergosip dengan Anda. Tapi, dengan pelan, tuntun atasan Anda keluar dari perilaku ini.
Saran dalam Praktik
Kasus #1: Berempatilah pada rekan kerja Anda dan carilah jalan untuk mendukng mereka baik secara terbuka dan personal.
Alexander Lowry, Direktur Eksekutif dari Career and Connection Institute di Gordon College, mengatakan bahwa cara untuk menangani kebencian yang disebabkan karena menjadi favorit atasan adalah dengan mengingat prinsip dasar tertentu.
“Lakukanlah sesuatu hal pada orang lain seperti Anda ingin mereka melakukan hal tersebut kepada Anda,” katanya. “Bayangkan diri Anda sebagai orang luar yang mengobservasi karyawan pilihan. [Dan tanyakan pada diri Anda:] Bagaimana Anda bisa suportif dan suka menolong kepada rekan Anda sementara Anda juga punya potensi untuk bersinar?”
Di masa awal kariernya, Alexander bekerja di bank New York Investment di bawah seorang atasan—sebut saja June—yang cukup baru dalam perusahaan. “Dia sangat cerdas dan kami memiliki hubungan kerja yang hebat,” kata Alexander.
June ramah terhadap semua orang, tetapi tidak ada yang mempertanyakan apakah Alexander adalah favoritnya. June mengatur meja kerja Alexander berada tepat di hadapan ruangannya. “Jadi kapan pun June kembali dari rapat besar, dia berhenti dan mengatakan pada saya apa yang terjadi,” begitu Alexander mengingatnya. “Saya direkrut untuk menjadi wakilnya, tapi dalam praktiknya saya seperti co-director dari divisi tersebut.”
Kedekatan hubungan antara Alexander dan June tidak luput dari pandangan rekan kerjanya. Salah satu rekan kerja, sebut saja Shelley, sangatlah cemburu. “Shelley adalah salah satu anggota pertama dalam tim, dan dia melihat peningkatan kariernya ke posisi June,” ujar Alexander. “Shelley jelas kecil hati dengan fakta bahwa saya memiliki tanggung jawab yang sama dalam kelompok.”
Untuk menghilangkan kekhawatiran Shelley, Alexander bekerja keras membuktikan bahwa dia mementingkan kepentingan Shelley. Contohnya, dia sering mengajak Shelley dalam rapat sehingga Shelley bisa terlihat oleh manajer atasan dan mendapat wawasan tentang prioritas perusahaan. “Dan saya juga mengatakan hal baik yang telah dia kerjakan supaya June bisa menyadari kontribusi Shelley,” katanya.
“Saya ingin membantu Shelley memiliki kesempatan untuk bersinar.”
Alexander juga melakukan yang terbaik untuk menjadi rekan kerja yang sangat baik bagi Shelley. “Saya sering bertanya padanya apa yang dia kerjakan dan apakah saya bisa membantunya.” Kata Alexander. Selley sangat menghargainya, dan dia serta Alexander pun bisa membangun hubungan kerja yang kuat.
Sekarang ini, Alexander memberikan saran kepada para mahasiswa untuk menyadari jika ada aspek pendorong karier dan juga potensi jebakan. “Anda perlu mengenali bagaimana perasaan rekan kerja Anda. Anda perlu membangun hubungan kuat dengan semua orang, karena network adalah hal paling penting dalam karier Anda.”
Kasus #2: Buat batasan dan hindari mengkritik rekan kerja dengan atasan Anda.
Chris Lee tahu betul bagaimana rasanya menjadi favorit atasan. Di salah satu pekerjaan pertamanya, dia bekerja di broker praktik medis, di mana dia menjadi anggota paling junior di timnya. Atasannya, sebut saja Harold, memiliki ketertarikan spesial dengan Chris. Dia secara terbuka memuji Chris kepada rekan kerja lainnya dan sering mengajaknya makan siang.
Ketika mereka pergi makan siang, Harold sering melontarkan komentar tentang karyawan lainnya. “Terkadang dia komplain tentang bagaimana anggota tim bekerja—misalnya [Harold berkata], ‘Dia mencetak penjualan besar bulan lalu, dan sekarang dia jadi malas,’” ingat Chris. “Itu membuat saya berada di situasi canggung.”
Chris mencoba menilai apa motivasi atasannya membagikan informasi ini. “Saya tahu terkadang beberapa orang hanya perlu mengeluarkan uneg-unegnya,” kata Chris. “Saya yakin atasan saya tidak meminta saran bagaimana cara menangani staf. Dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya.”
Namun tetap saja, mendengar atasannya mengkritik orang lain “bisa menodai bagaimana pandangannya” terhadap rekan kerjanya; Chris tahu dia perlu menghentikan perilaku ini.
Chris mulai dengan ‘mempertanyakan dengan halus’ anggapan Harold untuk memberikan beberapa pendapat objektif dalam percakapan tersebut dan memaksanya “mundur” dan melihat gambaran besarnya. Chris tidak pernah terlibat untuk mengkritik.
“Terkadang saya mengulangi apa yang dikatakan atasan saya. Misalnya, ‘Anda mengatakan kalau dia membawa hasil yang besar bulan lalu, bukan?’” katanya. “Atau jika atasan saya menghubungkan kinerja buruk rekan saya dengan kemalasan, saya akan memberi pendapat kalau dia ‘mungkin sedang melewati masa sulit,’ tanpa berspekulasi atau ikut mengkritik karena itu bukan tempat saya.”
Chris juga khawatir tentang bagaimana dia terlihat, sehingga dia juga mencoba menciptakan batasan antara dirinya dan atasannya dengan lebih banyak makan siang dengan rekan kerjanya.
Chris bekerja di pekerjaan tersebut selama 2 tahun, dan sekarang dia adalah seorang manajer pemasaran senior di sistem kesehatan besar dan pendiri dari PurposeRedeemed, sebuah perusahaan konsultan karier.
Sejak saat itu, dia mempertahankan hubungan baik dengan Harold. “Rasanya susah membangun kepercayaan dan hubungan baik dengan manajer, jadi saya tidak pernah menerimanya begitu saja,” katanya. “Dia telah menjadi rujukan saya untuk pekerjaan lain dan bahkan mengontrak saya untuk bekerja dalam suatu proyek.”
Sumber: Harvard Business Review (Rebecca Knight, 13 Mei 2021)