Di sekolah bisnis, kami disiapkan untuk mengisi posisi di bidang manajemen untuk masa mendatang. Namun, pelatihan yang kami terima tidak sepenuhnya sesuai dengan tantangan yang akan dihadapi. Dunia yang kita tinggali ini jauh dari sempurna. Perubahan iklim, ketidaksetaraan ekonomi, dan ketidakadilan ras hanyalah sebagian dari masalah yang paling mendesak saat ini. Sebagai pemimpin bisnis generasi selanjutnya, kami ingin menyelesaikan masalah tersebut.
Keterampilan taktis dalam pendidikan adalah hal penting. Pada saat yang sama, kita butuh untuk mengembangkan hal yang digerakkan oleh tujuan untuk mengarahkan pelaksanaan tersebut. Bayangkan dunia yang diarahkan oleh sekelompok pemimpin pemberani yang siap untuk mendefinisikan ulang seperti apa kapitalisme dan mengubah sistem tersebut menjadi sesuatu yang membantu kesetaraan ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Kemudian, pertanyaan terbesar bagi kita adalah: Bagaimana kita berhasil dalam sebuah sistem yang mengutamakan keuntungan dan hanya secara kecil memperhatikan isu sosial dan lingkungan? Bagaimana kita bisa menciptakan perubahan nyata selagi bekerja di dunia korporat yang kebanyakan terjebak dalam model bisnis yang ketinggalan zaman?
Kami sebagai mahasiswa bisnis (Celia dan John) dan profesor bisnis (Andy), mengetahui secara langsung seberapa jauh mahasiswa di masa sekarang merasakan tingkatan dan urgensi dari ketegangan ini.
Permasalahan
Kami, Celia dan John, telah memegang posisi penting di masing-masing industri makanan dan konsultasi dampak sosial. Selama masa awal karier, kami sering diberitahu oleh para atasan untuk menghindari permasalahan, tetap di jalan yang tepat, dan mencapai hasil sesuai dengan ketentuan. Terlepas dari semua keinginan supaya “melakukan hal baik,” kalimat-kalimat tersebut hanya didesain untuk meningkatkan harga saham.
Saat kami mempertanyakan mengapa setiap angka kuartal adalah ukuran kesuksesan yang paling penting, jawabannya akan selalu berupa, “tanggung jawab kami adalah menghasilkan uang untuk para pemegang saham yang tidak terlihat.” Tujuan yang sempit ini dijual kepada kami dengan kedok sebagai hal yang dibutuhkan—terlepas dari apapun konsekuensinya, supaya perusahaan bisa berkembang. Kami dibutakan dari tujuan yang lebih besar dari tindakan kami, sementara pasar saham terus berkembang dan yang kaya jadi semakin kaya.
Pengalaman kami bisa membantu menjelaskan stagnansi dalam pencarian keuntungan di dunia bisnis yaitu keputusan jangka pendek dibuat dari adanya masalah terburuk seperti ketidaksetaraan pemasukan, polusi, dan diskriminasi (pada orang lain).
Ketika kami meninggalkan pekerjaan tersebut dan memulai sekolah bisnis dengan tujuan membuka jalan yang lebih baik ke depannya, kami menemukan sebuah kurikulum yang menekankan kembali pesan yang benar: Menciptakan nilai pemegang saham dengan menggunakan strategi yang berawal dari pertumbuhan net worth dan mengamankan keuntungan jangka pendek.
Demikian pula, Andy, sebagai seorang profesor telah mengajarkan banyak mahasiswa yang merasa asing dengan pesan yang kerap disampaikan di sekolah bisnis. Satu mahasiswa bahkan mengaku merasa penuh tekanan setiap kali dia masuk ke kampus. Dia telah melihat secara langsung survei yang menyebutkan jika 97% profesional bisnis muda ingin karier yang penuh “tujuan”, sementara hanya 34% yang memiliki ketertarikan mendalam pada pekerjaan mereka dan hanya 16% yang menikmati pekerjaannya.
Jika pemimpin bisnis generasi selanjutnya tidak menghilangkan “kesenjangan tujuan” ini, maka masa depan yang adil dan berkelanjutan akan memudar dari pandangan.
Solusi
Jika Anda adalah mahasiswa, ketahuilah jika dunia di sekitar Anda berubah dengan cepat sehingga membuat sekolah dan kampus kewalahan. Kurikulum meminta Anda untuk menguasai kemampuan yang memaksimalkan nilai pemegang saham dalam hal populer seperti keuangan, akuntan, pemasaran, operasi, dan manajemen sumber daya manusia. Namun, kurikulum tersebut gagal mengajari Anda jika ada pemegang saham yang lebih penting lainnya, dan ada tujuan yang lebih besar untuk mengarahkan kemampuan Anda ke arah yang seharusnya.
Anda bisa mengembalikan tujuan ke dalam pekerjaan Anda dengan mengambil alih pengembangan profesional dan tidak menerima kurikulum yang ada secara apa adanya. Ini akan jadi keistimewaan tersendiri bagi Anda dalam beberapa tahun di kampus dengan sumber daya yang luas dan mengeksplorasi ide-ide baru dalam berbagai disiplin ilmu. Cara ini menawarkan Anda ruang untuk melupakan kerangka bisnis kuno dan berbahaya dan menggantikannya dengan pemikiran maju dan relevan.
Untuk melakukan hal ini, Anda perlu mengenali batasan dari tugas kuliah Anda dan melengkapinya dengan memperluas pandangan pendidikan Anda sendiri. Tidak akan ada yang secara eksplisit membantu Anda dalam proses ini. Anda harus mencari kesempatan itu untuk Anda sendiri. Jika tidak, pendidikan Anda akan berakhir tidak sempurna.
Dengan memikirkan strategi ini, kami meningkatkan kurikulum yang ada di University of Michigan dengan belajar secara langsung dari pemimpin bisnis yang berorientasi ke depan yaitu Paul Polman. Sebagai mantan CEO di Unilever, Paul memfokuskan perusahannya pada tujuan jangka panjang yang berkaitan dengan kemajuan sosial dan lingkungan dengan menghilangkan pelaporan triwulan dan mengembangkan Unilever Sustainable Living Plan.
Sekarang, sebagai co-founder dan pimpinan dari IMAGINE, sebuah perusahaan nirlaba yang bertujuan untuk meningkatkan keberlanjutan melalui aksi kolaboratif, dia mencurahkan energinya untuk bermitra dengan pembuat perubahan lainnya yang tertarik dalam mengubah pemikiran mengenai bisnis.
Melalui serangkaian wawancara dengan Paul, kami berusaha belajar bagaimana cara memimpin dengan tujuan di dunia bisnis yang ingin menghilangkan keinginan tersebut. Kami menanyakan:
- Bagaimana kita tetap memiliki harapan saat menghadapi berbagai tantangan?
- Bagaimana kita, tanpa kedudukan formal, mempromosikan kesetaraan ekonomi, lingkungan dan sosial dalam jabatan kita?
- Bagaimana mahasiswa dan profesional muda meraih sukses di industri ini selagi mencoba untuk memahami kembali sistem yang ketinggalan zaman dan berbahaya yang bisa mendorong mereka?
Jika Anda adalah seorang mahasiswa atau profesional muda yang ingin membawa lebih banyak tujuan dalam karier Anda, biarkan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas menjadi tambahan utama untuk pendidikan yang baru dan lebih baik.
Luangkan waktu untuk memahami tujuan dan nilai Anda.
Dunia kita yang serba cepat, dipenuhi dengan data, notifikasi, dan sosial media, menyisakan sedikit waktu bagi kita untuk berpikir dan merenungkan jalan hidup kita. Kecepatan langkah dari sekolah bisnis pun tidaklah membantu. Masa perkuliahan, klub-klub, rapat, networking, dan pencarian kerja memakan seluruh waktu yang bisa kita gunakan untuk introspeksi.
Namun, tanpa perenungan yang hati-hati mengenai masa depan kita, kita berisiko mengabaikan tujuan mendasar dari pendidikan kita hanya untuk meraih sebuah status. Ketika hal ini terjadi, kita kemungkinan tidak menggunakan pandangan populer, namun justru pemikiran yang ketinggalan zaman dan mengukur sukses hanya dengan melihat rekan kerja dan profesor—bukan ukuran kita sendiri. Kemungkinan kita juga berakhir pada sistem yang menggiring kita, sering kali dalam bidang keuangan atau konsultasi, kita terpikat pada gaji tinggi sebagai bentuk pengembalian investasi kita, hingga akhirnya kita mengukur nilai diri kita dari pendapatan kita.
Untuk menghindari nasib seperti ini, luangkan waktu untuk mundur dari aktivitas sekolah Anda. Ciptakan ruang bagi diri Anda untuk memahami impian Anda dengan menemukan keterkaitan antara tujuan Anda (apa yang Anda fokuskan?), kemampuan Anda (dimana letak keunggulan Anda?), dan apa yang dunia butuhkan (ke mana Anda perlu mencurahkan energi Anda?).
“Introspeksi bukanlah untuk orang yang berhati lemah,” kata Paul kepada kami. “Anda harus mengenal diri Anda untuk tetap kuat selagi Anda mempersiapkan diri memasuki dunia yang ingin Anda pimpin dengan sepenuh hati dan keberanian.”
Mungkin Anda ingin membuat bisnis yang lebih berkelanjutan (tujuan), ahli dalam hal keuangan (kemampuan), dan mengetahui masalah serius yang mengancam masa depan sistem pasar kita (apa yang dunia butuhkan). Kemudian, bagaimana Anda menggunakan tuas dalam bidang yang Anda pilih untuk mendorong perubahan? Contohnya, John sekarang menggunakan kemampuan keuangannya untuk melakukan pekerjaan yang bisa mempercepat transisi energi terbarukan. Lalu, Celia memanfaatkan pengalaman di bidang pangan dan di bidang supply chain untuk mencari solusi terhadap tantangan sampah makanan.
Proses ini akan memakan waktu dan tidaklah mudah. Bukan berarti ini akan membawa Anda pada sebuah tujuan, tetapi lebih ke mengajak Anda kepada pengalaman untuk terus melakukan eksplorasi. Ketika Anda mencari hubungan dari tiga pertanyaan di atas, Anda pastinya akan semakin dekat dalam menemukan pekerjaan yang memuaskan dan dibutuhkan oleh orang lain.
Kembangkan lingkup pengaruh Anda.
Mengejar tujuan bukan sekadar usaha individu saja. Ini membutuhkan dukungan kelompok yang membantu Anda mencapai tujuan. Oleh karenanya, Anda perlu mengembangkan apa yang Paul sebut sebagai “lingkup pengaruh,” atau jaringan—baik itu di dalam maupun di luar sekolah atau perusahaan yang memiliki kesamaan nilai dan kepercayaan dalam visi Anda.
Bagaimana Anda melakukan hal ini?
Ketika Anda tahu apa hal yang Anda pedulikan, apa hal yang Anda kuasai, dan bagaimana menggunakan kemampuan tersebut untuk dunia, mulailah mencari peluang untuk melakukan pekerjaan tersebut—dan lakukan itu secara baik untuk membangun kredibilitas dan respek. Jika Anda tahu diri Anda sendiri, orang lain akan mulai percaya dan melihat diri Anda sebagai jawaban. Profesor di Stanford, Deb Meyerson menyebut hal ini sebagai “tabiat radikal”: Anda bertabiat (artinya berhasil dalam pekerjaan) dan Anda radikal (artinya Anda memegang teguh nilai-nilai personal Anda).
Kedua, Anda perlu secara aktif memberi contoh pada orang lain di sekitar Anda jika Anda teguh pendirian terhadap nilai dari tujuan Anda. Anda perlu menunjukkan pada orang jika “apa yang Anda minta dari orang lain adalah hal yang harus Anda minta terlebih dulu dari diri Anda,” begitu Paul menasihati kita. “Beberapa orang berpikir jika Anda selalu mengalah, maka itu bisa membangun kepercayaan orang lain. Tapi, bukan itu masalahnya.” Dengan melebihi tugas yang diberikan di mana pun posisi Anda, Anda menunjukkan pada orang lain jika Anda berkeinginan untuk bekerja keras untuk mereka. Itulah bagaimana Anda membangun kepercayaan yang bisa menjadi satu-satunya cara untuk membangun hubungan diluar tipikal hubungan transaksional bisnis.
Ketiga, Anda harus menghubungkan etika kerja Anda dengan nilai Anda, sehingga bisa mencontohkan komitmen ke depannya yang bisa dikenali dengan cepat oleh orang lain. Contohnya, di Unilever, Paul mengatur waktu pelatihan untuk karyawan mereka untuk menjelaskan tujuan mereka, dimulai dari 100 pimpinan, kemudian 500, dan seterusnya, sampai seluruh karyawan bisa memahami tujuan mereka. Dan tentu saja, dia memulai proses ini dari dirinya sendiri.
Orang-orang akan lebih nyaman mempromosikan pimpinan yang mereka tahu sebagai seorang yang memiliki komitmen dan baik, mengambil keputusan berdasarkan nilai, dan pemimpin yang berkeinginan untuk melakukan apa yang dia katakan.
Ketika ada kesempatan, ubahlah sistem tersebut.
Bagian terakhir dari potongan puzzle ini sangatlah sederhana: Kacaukan sistem yang paling membahayakan. Ketika Anda masuk atau kembali masuk ke dunia kerja, akan mudah bagi Anda untuk terdistraksi untuk meraih promosi jabatan atau mengerjakan proyek besar berikutnya. Tetapi, tetaplah fokus pada permainan jangka panjang. Ketika Anda melakukannya, kesempatan lebih baik yang sesuai dengan tujuan dan nilai Anda akan bermunculan baik dalam lingkup lokal atau global. Anda juga bisa membuka pintu bagi orang dalam lingkup pengaruh Anda dan mereka yang menemukan Anda untuk melakukan hal yang sama.
“Motivasi Unilever adalah menunjukkan bahwa bisnis bisa dilakukan dalam cara yang berbeda,” kata Paul. “Kita tahu jika kita harus memuaskan para pemegang saham, dan jika kita gagal dalam meraih tujuan yang lebih besar, kita akan gagal dalam eksperimen terbesar manusia. Jika sektor swasta tidak berubah, manusia juga tidak bisa berfungsi.”
Paul mengatakan kalau dia melihat peran bisnis sebagai suatu entitas yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah terbesar yang dihadapi oleh masyarakat. Di Unilever, dia berpendapat jika “… setiap brand harus menyelesaikan masalah dunia.” Misalnya, motivasi Domestos adalah membangun 30 juta toilet untuk menghentikan permasalahan buang air sembarangan. Motivasi Doe adalah menjangkau 100 juta gadis dan menginspirasi mereka untuk mencintai diri sendiri. Motivasi Lifebuoy adalah untuk meningkatkan kesehatan dengan memotivasi miliaran anak untuk mencuci tangan mereka.
Selagi tim mereka mencapai tujuan-tujuan tersebut, perusahaan-perusahaan itu menjadi lebih dekat dengan masyarakat. Mereka menemukan kesempatan lebih besar, brand mereka memiliki alasan yang lebih kuat untuk tetap hadir, konsumen mereka melihat perusahaan sebagai pihak yang peduli, dan bisnis mereka pun berkembang. Dalam setiap cara tersebut, Paul mengubah sistem yang mengarahkan pemahaman orang terkait alasan mereka datang ke tempat kerja.
Meskipun Anda tidak bisa mengendalikan bagaimana masyarakat dalam skala besar merespon usaha Anda dalam melakukan perubahan, Anda bisa menaruh diri Anda dalam posisi untuk mengubah praktik-praktik yang tidak pantas. Bertindaklah sebagai seorang yang mampu mempercepat rangkaian reaksi yang bisa membuka cara baru dalam bekerja.
Sekarang, mulailah.
Di akhir interview kami dengan Paul, dia bertanya kepada kami sebuah pertanyaan provokatif, “Apa permainan yang Anda mainkan di sini? Untuk siapa Anda memainkan permainan tersebut?”
Sekarang kami memberikan pertanyaan ini kepada Anda.
Apakah Anda memilih menjadi seorang pahlawan dalam waktu singkat dan mengiyakan keputusan Anda untuk meningkatkan keuntungan di kuartal berikutnya? Atau Anda memilih untuk bermain permainan jangka panjang untuk kemanusiaan, mencari autentisitas, dan kepemimpinan moral yang melihat keuntungan yang jauh dari sekadar pemegang saham?
Paul cukup terang-terangan tentang skenario pertamanya ini. “Kami kekurangan pemimpin yang berani. Para pemimpin yang tidak berani ini, mereka bermain aman. Mereka memainkannya bukan untuk kalah daripada bermain untuk menang. Mereka tidak akan pernah keluar dari zona nyaman mereka. Mereka tidak akan pernah membuat komitmen kecuali mereka 100% yakin bahwa mereka dapat mewujudkannya. Tapi [ide mereka sering] dikemas ulang. Kami menyebutnya sebagai greenwashing (tipuan pemasaran).”
Jika Anda memilih tujuan demi kemanusiaan, seperti yang kami lakukan, ketahuilah jika Anda tidak bisa memulainya besok. Anda tidak bisa menunggu hingga memiliki posisi formal, berkuasa, atau memiliki 3 huruf gelar di belakang nama Anda untuk menyadari tujuan Anda dan mewujudkannya. Keputusan Anda untuk memicu perubahan sistemik harus dimulai hari ini, dan semangat Anda untuk belajar tidak boleh berakhir ketika Anda menerima gelar tertentu. Anda harus tetap ingin tahu, terus mengembangkan kemampuan baru, menyempurnakan keterampilan yang ada, dan mempersiapkan diri untuk berkembang dengan bisnis dan dampak sosialnya selama bertahun-tahun yang akan datang.
Kekuatan yang dimiliki oleh pemimpin bisnis sangatlah besar. Ambil tanggung jawab ini secara serius dan berusahalah secara keras untuk mengarahkan bisnis ke arah yang sukses dan positif. Dunia yang Anda tinggali ini menuntut hal tersebut.
Sumber: Harvard Business Review (Celia Bravard, John Pontillo, dan Andrew Hoffman, 10 Juni 2021)